Jahidatul Islam

Dakwah Islamiyyah & Kepimpinan Dalam Islam






Isnin, 9 Mei 2011

ALANGKAH INDAHNYA HIDAYAH ALLAH




Firman Allah ‘Azza wa Jalla (artinya):

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56)

Manusia memang cenderung menjaga sesuatu yang dianggap berharga. Sebaliknya kita akan membuang sesuatu yang dianggap tidak berharga. Semakin bernilai sesuatu semakin bersungguh kita menjaganya.

Sesetengah manusia sangat menjaga hartanya kerana dianggap hartanya sangat berharga. Ada pula sentiasa menjaga dan merawat mukanya supaya kelihatan awet muda kerana cantik adalah segalanya.
Ada juga bermati-matian mempertahankan kedudukan kerana itu dianggap bernilai dan kalaulah begini perilaku kita, rupanya kita masih menganggap material (kebendaan) adalah segala-galanya.

Namun, ada juga yang bermati-matian menjaga hidayah dan petunjuk yang Allah anugerahkan. Orang yang seperti ini berkeyakinan hidup ini tidak akan selamat sampai muara ketenangan di akhirat kecuali hanya dengan bekalan taufik dan hidayah Allah.

Taufik dan hidayah sangat penting di dalam diri manusia. Pernah suatu ketika seorang yang dibutakan matanya dalam permainan diminta supaya berjalan, tiba-tiba menangis.

Dia berasa langkahnya berisiko, mungkin terpelecot, bimbang terhantuk atau jatuh tangga. Begitulah akibatnya sekiranya tidak mendapat panduan.

Orang yang yang berjalan tanpa arah sentiasa berada dalam cemas, takut, bingung. Tidak sedikit orang kaya yang menderita dengan kekayaan. Bagaimana kekayaan yang melimpah semakin membuatnya sengsara.

Pendek kata orang yang jauh daripada petunjuk Allah dan al-Quran, apa pun diberikan Allah kepadanya pasti hanya akan membuatkan dirinya hina.

Harta, pangkat, kedudukan atau penampilan kalau tidak diiringi dengan ketaatan pasti akan menyiksakan.

Kemerdekaan yang kita kecapi sekarang jika tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah membuatkan kita mudah lalai. Negara saja merdeka tetapi jiwa tidak, malah ditawan syaitan.

Sedarlah, syaitan adalah penjajah yang tidak pernah berputus asa. Dalam satu perisytiharan, menurut hadis Rasulullah s.a.w, syaitan pernah berkata:

"Demi kebesaran-Mu, aku bersumpah wahai Allah, aku tidak akan berpisah dengan anak Adam selagi nyawanya masih di badan.”

Bayangkan kesungguhan syaitan, isytihar perang dengan manusia. Kalau kita masih main-main, mudah tertipu.

Syaitan ibarat tukang joget atau penari. Dia akan menari ikut muzik. Kalau d
ondang sayang ada lenggoknya, kalau lagu rock pandailah dia meloncat...maknanya syaitan tahu sasarannya kalau orang alim begini caranya, kalau sesatkan pemuda lain caranya, orang kaya lain pula kaedahnya.

Kita memberikan tumpuan kepada yang nampak di mata, yang besar-besar biasanya menjadi tumpuan, yang kecil tidak berapa dipedulikan. Kita kadang kala lupa sesuatu yang tidak nampak itu sangat berharga.

Iman kecil sahaja, tidak nampak tapi sangat berharga. Jadi dalam hidup ini lihat dan utamakan pandangan Allah.

Akal dianugerahkan kepada manusia yg hidup di muka bumi ini, telah dikasih oleh Allah petunjuk petunjuk yg dinamakan jalan lurus atau agama, dengan perantara Nabi Nabi dan Rasul Rasul, dengan Kitab Kitab Suci-Nya. Kitab Suci Zabur yg hilang, di ganti oleh Allah dengan Taurat, sedang Kitab Taurat yg hilang di ganti oleh Allah dengan Injil, sedang Injil yg mengalami nasib yg sama dengan Zabur dan Taurat, sudah diganti oleh Allah dengan Kitab al-Quran.
Akal manusia harus didampingi terus dengan al-Qur'an ini, kalau tidak akan sesat dan jahatlah manusia ini.
Iblis atau setan yg menjadi musuh manusia, yg sebenarnya mahluk berakal juga. Sehingga jika dia dihadapi manusia dengan akal saja, sering manusia kalah dan iblislah yg menang. Karena iblis melihat kita, sedang kita tidak melihat iblis. Apa bila setan atau iblis dalam perlawanannya terhadap manusia selalu mempergunakan seluruh kekuatan yg ada padanya, tanpa mengingat moral atau akhlak.
Kelebihan akal manusia dari akal iblis atau setan, ialah karena akal kita menerima petunjuk dari Allah s.w.t. (Agama) sedang akal iblis atau setan tidak dapat menerima Petunjuk Allah, yg bernama Agama.
Tetapi tidak dapat dibantah dan sungguh menyedihkan, tidak semua manusia menerima Petunjuk atau Hidayat dengan akalnya., karena pengaruh dan perdayaan dari iblis dan setan, kebanyakan manusia berpaling atau tidak menghiraukan akan Petunjuk s.w.t.
Karena ajakan perdayaan atau pengaruh setan dan iblis, ramai manusia tidak pandai mensyukuri nikmat Allah, mereka menjadi fasiq, membenci akan kebenaran, tidak beriman, tidak benar jalan fikiran atau salah pendapat, bodoh dan sebagainya. Awas!!!!!!!!!!!!!!!! jangan kita ditipu,setelah kita menerima hidayah Allah.

“ALANGKAH INDAHNYA HIDAYAH ALLAH” . Tidak sama nilai walaupun segunung emas yang kita dapat .

Jahidtulislam :Jun 2011

0 ulasan:

Catat Ulasan